Rasio 200/1/1

(Artikel saya yang dimuat majalah KOI's

Vol VI, 08-09 / 2014)


Main koi itu main rasio. Disadari atau tidak, permainan komparatif itu sudah mendarah daging dan menjadi dasar rekayasa dan pengelolaan kolam.


Ini sangat bagus, bahwa dengan rasio itulah pehobi koi bisa memasukkan berbagai constraints (faktor pembatas) ke dalam pertimbangan sehingga bisa memenuhi kondisi ideal--terhindar dari ancaman hantu hantu penyakit bahkan kematian. Beberapa contoh rasio yang menjadi mainan sehari-hari pehobi kepadatan populasi banding volume kolam, dan volume kolam banding debit sirkulasi. Anda pun bisa memanjangkan daftarnya dengan cepat.


Rasio yang jamak dan sudah menjadi kesadaran umum di kalangan perkoian adalah volume ruang filter banding volume kolam. Bahwa ruang filter harus setidaknya 30 % dari volume kolam adalah adagium yang telah mapan. New kid on the block, pehobi koi baru, pun niscaya akan segera mendapat pelajaran ini dan menerapkannya. Akan tetapi alasan di balik perbandingan tersebut tak banyak menjadi bahan pergunjingan ke cuali di kalangan penggila detil teknis.


Sebagai pehobi koi, dalam hal ini pemilik atau pengelola kolam koi, ada baiknya anda memahami esensi filtrasi. Hal paling esensial adalah hakikatnya filtrasi merupakan penyediaan permukaan benda padat yang diperlukan sebagai tempat hidupnya bakteri penitrifikasi. Bakteri yang memroses amonia menjadi nitrit dan kemudian nitrat tersebut bersifat non-motile (tidak bergerak/tidak berpindah-pindah), sehingga memerlukan rumah tinggal permanen di mana mereka berkoloni dalam bentuk bio-film.


Bakteri sahabat kita itu sebenarnya suka menjarah lahan. Semua benda padat di dalam air dimanfaatkan sebagai apartemen, termasuk permukaan dinding-dinding kolam, pipa-pipa, pompa air, batu-batuan, bahkan kabel-kabel peralatan yang tercelup di dalam air. Sayangnya, total luas permukaan benda-benda tersebut tidak cukup menampung mereka. Kolam koi adalah sebuah bentuk captive aquaculture--ekosistem tertutup yang diisi dengan populasi sangat padat. Beban pendauran senyawa-senyawa beracun yang ditanggung jauh lebih besar dibandingkan dengan alam terbuka yang densitas populasinya relatif rendah. Bandingkan kolam yang isinya satu ekor ikan per ton air misalnya, dengan danau yang setiap ekor didukung oleh ratusan ton air--hampir otomatis benda-benda padat yang ada di danau bisa menyediakan luas permukaan benda padat yang mencukupi. Jadi untuk kolam koi, agar semua senyawa turunan nitrogen tuntas terproses, diperlukan pelipatgandaan permukaan benda padat pada ruang terbatas agar bisa dimanfaatkan sebagai kompleks pemukiman bakteri pekerja suka rela yang sangat banyak jumlahnya--anda tak perlu menghitungnya.


Filtrasi adalah manifestasi rekayasa pelipatgandaan permukaan benda padat. Premis dasarnya dalah semakin luas permukaan benda padat yang tersedia, semakin banyak pula bakteri yang bisa hidup, dan semakin banyak pula amonia yang bisa diproses. Maka beredarlah di pasar bioball baik model ping pong maupun rambutan, kaldness, ceramic rings dan media filter lain berbahan keramik, dan lain-lain. Kreativitas pehobi koi Indonesia pun telah mencemplungkan sedotan, tutup botol plastik, jaring bekas, dan batu vulkanik ke dalam filter kolam koi.


Kalau sejauh ini anda mulai bertanya-tanya "terus berapa meter persegi luas permukaan media filter yang cukup untuk memukimkan bakteri yang banyak yang katanya tak perlu dihitung itu?", atau "berapa meter persegi yang diperlukan per ekor koi ukuran 65 cm?", atau "berapa meter persegi diperlukan untuk...?", anda meulai mengarah kepada esensi pengelolaan kolam koi. Bagaimanapun, ada sedikit lagi yang perlu dibincangkan, yaitu amonia.


Amonia adalah produk langsung dari pemberian pakan koi. Seberapa banyak amonia yang diproduksi dan mencemari kolam tergantung dengan jumlah pakan yang diberikan, komponen pakan yang secara langsung terkonversi menjadi amonia adalah komponen nutrisi protein. Kalau tak suka matematika dan rumus rumit, pakai rumus sederhana saja, yaitu 10 % dari protein yang dilahap dikonversi menjadi amonia. Misalkan dalam sehari pakan yang diberikan adalah 500 gram dengan kandungan protein 40 %, berarti kolam mendapatkan pasokan amonia sebanyak 20 gram per hari. (500 gram/hari x 40 % x 10 % = 20 gram/hari).


Sampailah kita kepada rasio kunci, yaitu luas permukaan media filter banding jumlah amonia--berapa meter persegikah luas permukaan media filter yang diperlukan untuk memukimkan sejumlah bakteri yang diperlukan untuk menitrifikasi 1 gram amonia? Ini adalah pertanyaan esensialnya. Masalahnya, tidak mudah mencari literatur untuk menjawab secara langsung dengan sebuah rumus matematis sederhana. Ini bisa dimengerti karena banyaknya enablers (faktor-faktor pendukung) yang harus dimasukkan sebagai variabel. Bagaimanapun, best practices selalu bisa menjadi guru. Dengan menelan referensi-referensi teoritis njlimet, mengamati banyak kolam, diskusi, dan tentu saja praktek, sampailah kepada pedoman terbaik yang bisa direkomendasikan, yaitu rumus 200 m2 / 1 gram / 1 hari. Agar sederhana dan mudah diingat, kita sebut saja "Rasio 200/1/1". Artinya, diperlukan media filter dengan permukaan seluar 200 m2 untuk memroses 1 gram amonia per hari. Kalau penghuni kolam diberi rangsum yang menghasilkan amonia 20 gram per hari seperti contoh di atas, maka diperlukan media filter dengan total luas permukaan 4.000 m2.


Rumus di atas adalah batas aman, sudah memasukkan safety margin ke dalamnya karena tidak semua kolam mempunyai enablers yang memadahi untuk mendukung proses nitrifikasi. Meskipun sebagian besar pehobi koi sudah paham, mekanismenya dan komponennya cukup kompleks. Laju nitrifikasi sangat dipengaruhi oleh antara lain oksigen terlarut, keasaman, padatan terlarut, alkalinitas yang pada tahap ini kita anggap ceteris paribus.


Apakah implikasi dari rasio itu? Banyak, tentu saja. Yang jelas, dengan berpedoman pada Rasio 200/1/1, keseimbangan kolam bisa dikelola dengan baik. Salah satu contoh aplikatifnya adalah penyesuaian jumlah pakan dengan kemampuan filtrasi. Misalkan total volume filter (VF) adalah 2 m3, dengan media yang mempunyai SSA 600 m2/m3, berapakah jumlah pakan dengan kandungan protein (PT) 30 % yang bisa diberikan sehari?


KALKULASI

Luas Permukaan Media (LM)

= VF x SSA

= 2 x 600

= 1.200 m2

Amonia Diproses (AP)

= LM / 200

= 1.200 / 200

= 6 gram / hari

Jumlah Pakan (JP)

= AP / PT / 10 %

= 6 / 30 % / 10 %

= 200 gram / hari