Parasit dan Infeksi Sekunder

Jika Anda mendengar kata parasit pada koi mungkin yang ada di benak Anda adalah kutu jarum (Lernea sp.) dan kutu kura/bulat (Argulus sp.). Akan tetapi, apakah hanya dua parasit tersebut yang dapat menjangkiti koi? Faktanya terdapat banyak sekali jenis parasit berukuran mikroskopis yang mungkin saat ini juga sedang menggerogoti tubuh koi Anda. Beberapa parasit yang sering menyerang koi adalah:

1. Kutu jarum (Lernea sp.)

Lernea sp.
Sumber: Color Atlas of Parasitology

2. Argulus sp.

Argulus sp.
Sumber: Loh, R. and Landos, M. 2011. Fish Vetting Essentials

3. Flukes (Gyrodactylus sp. dan Dactylogyrus sp.)

Flukes (Dactylogyrus sp. dan Gyrodactylus sp.)
Sumber: Loh, R. and Landos, M. 2011. Fish Vetting Essentials

4. Trichodina sp.

Trichodina sp.
Sumber: Color Atlas of Parasitology

5. Costia (Ichythyobodo sp.)

Costia (Ichthyobodo sp.)
Sumber: Loh, R. and Landos, M. 2011. Fish Vetting Essentials

6. Whitespot (Ichthyophthirius multifilis)

Ichthyopthirius sp.
Sumber: Color Atlas of Parasitology

7. Chilodonella sp.

Chilodonella sp.
Sumber: Loh, R. and Landos, M. 2011. Fish Vetting Essentials

8. Myxobolus koi

Myxobolus koi
Sumber: Color Atlas of Parasitology



Parasit-parasit tersebut seringkali menyebabkan luka (sebagian besar parasit tersebut hidup dengan memakan jaringan tubuh ikan) dan menimbulkan rasa tidak nyaman pada ikan sehingga ikan seringkali menggesekkan tubuhnya pada dinding atau lantai kolam (flashing). Infestasi parasit mengakibatkan terjadinya kelukaan pada tubuh ikan dan hampir pasti akan diikuti dengan infeksi sekunder yang disebabkan oleh bakteri.


Keberadaan bakteri patogen hampir tidak mungkin dihilangkan dalam suatu kolam. Bakteri patogen seperti Aeromonas sp. hidup dan selalu terdapat di air kolam dan di tubuh ikan itu sendiri. Bahkan penelitian menunjukkan pada permukaan tubuh ikan yang tidak menunjukkan gejala penyakit terdapat sebanyak 100 juta koloni bakteri Aeromonas sp. Oleh karena itu, infeksi yang disebabkan oleh Aeromonas sp. bersifat oportunistik yang berarti infeksi baru akan terjadi jika dipicu oleh faktor-faktor tertentu (predisposisi).


Bakteri yang telah masuk melalui luka terbuka pada tubuh ikan menyebabkan borok (ulcer) bertambah parah dan bila telah masuk ke dalam pembuluh darah maka akan terjadi septicaemia. Bakteri yang telah masuk ke dalam pembuluh darah akan menyebar ke berbagai organ internal sehingga menyebabkan infeksi sistemik. Pada tahap ini ikan menunjukkan gejala seperti melamun, kurang aktif, berenang tidak seimbang, nafsu makan menurun, bahkan bila organ ginjal dan liver sudah mengalami kerusakan maka akan muncul pula gejala dropsy akibat penumpukan cairan yang disebabkan gangguan osmoregulasi tubuh ikan. Bila gejala-gejala tersebut sudah terlihat, maka infeksi bakterial sudah memasuki tahap infeksi kronis.


Selain infestasi parasit, kondisi parameter air yang tidak ideal juga dapat menjadi pintu masuknya bakteri ke dalam tubuh ikan. Pada kondisi air yang buruk, ikan akan mengalami stress dan menyebabkan turunnya imunitas ikan sehingga bakteri patogen mudah menginfeksi ikan.


Pengobatan infeksi bakterial pada koi harus dilakukan secara komperehensif. Pengobatan tidak dapat hanya berfokus pada bakteri yang “notabene”nya merupakan infeksi sekunder. Penyebab primer yaitu infestasi parasit dan kondisi air yang tidak ideal juga harus dibereskan. Ikan yang diduga terjangkit parasit harus dipastikan melalui pemeriksaan mikroskopis kemudian diobati sesuai dengan jenis parasit yang ditemukan. Parameter air pun harus diperiksa dan air atau sistem filtrasi dapat diberi perlakuan untuk menyesuaikan kondisi yang diperlukan koi untuk hidup dan berkembang dengan baik.


Pemeriksaan kondisi ikan dan air secara rutin serta standar biosecurity yang baik menjadi kunci menjaga kesehatan koi dan air kolam. Dengan melakukan pemeriksaan secara rutin, outbreak penyakit pada kolam Anda dapat dicegah.


Referensi:

Erne, N.S. 1998. Infectious and Parasitic Diseases of Koi. USA: Las Vegas

Jepson, L. 2009. Exotic Animal Medicine A Quick Reference Guide 1st Ed. UK: Elsevier

Loh, R. dan Landos, M. 2011. Fish Vetting Essentials. Perth: Richmond Loh Publishing

Meredith, A. dan Redrobe, S. 2002. BSAVA Manual of Exotic Pets 4th Ed. UK: BSAVA

Sullivan, J. T. 2004. A Color Atlas of Parasitology. USA: San Fransisco University

Ulfiana, R., Mahasri, G., dan Suprapto, H. 2012. Tingkat Kejadian Aeromoniasis pada Ikan Koi (Cyprinus carpio carpio) yang Terinfeksi Myxobolus koi pada Derajat Infeksi yang Berbeda. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan vol. 4 no. 2 ISSN 2085-5842. Fakultas Perikanan dan Kelautan UNAIR

2.523 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua